Sunday, March 2, 2008

2 sisi mata uang ; telaah sepak terjang Siti Fadilah Supari

Indonesia mencatat menteri kesehatan perempuan pertaman di era Presiden SBY. Perempuan itu adalah Siti Fadilah Supari yang sering dipanggil Bu Menkes. Sebelum menjabat menteri, Siti Fadillah telah mengabdi selama 25 tahun di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita. Sejak diangkat pada tahun 2004, Bu Menkes mencanangkan program-program kesehatan yang lebih memihak pada rakyat. Salah satu program yang segera akan dilaksanakan adalah mengupayakan pemerataan kesehatan untuk memudahkan akses masyarakat miskin ke pelayanan kesehatan. Menurutnya, masih banyak rakyat yang tidak mampu menjangkau pelayanan kesehatan. Ia juga menilai ada kecenderungan rumah sakit lebih mengarah ke komersial. Padahal harus diingat bahwa rumah sakit juga memiliki fungsi sosial dan tidak bisa hanya mengambil keuntungan saja. Ia juga menegaskan bahwa sekian persen dari pendapatan rumah sakit harus disediakan untuk pelayanan sosial bagi masyarakat tidak mampu sesuai dengan peraturan yang ada. Siti Fadilah bahkan membuat sebuah acara talkshow di Metro TV dengan tajuk B4M alias Bincang-bincang Bersama Bu Menkes. Berbagai masalah kesehatan maupun kebijakannya dibahas dalam 1 tema setiap minggunya. Substansi acara ini cukup baik hanya saja penampilan Bu Menkes seringkali terkesan ga cocok karena menor dan banyak perhiasan di sana sini. Bayangkan saja kalau topik bahasan saat itu adalah penanggulangan korban bencana, gimana ga nyambung? Secara pribadi, Bu Menkes terlihat sebagai pribadi yang hangat namun di kesempatan lain kita juga bisa menikmati sosok tegasnya. Tak jarang beliau tampil di berbagai media yang mengabarkan kunjungannya ke daerah-daerah. Berbagai reklame non komersil juga menampilkan beliau dalam ajakan-ajakan program kesehatan (tapi tetep lho, kadang fotonya menor banget). Ibarat kiper sepakbola yang sering kebobolan, Bu Menkes juga mengalami hal yang disebut blunder. Salah satu TV swasta meliput kekesalan SBY pada Bu Menkes dalam suatu seminar. Presiden bahkan menegur langsung Bu Menkes yang sedang bercakap-cakap ketika Presiden berbicara. Cukup memalukan karena kejadian seperti ini rasanya paling mungkin ditemui di dalam kelas. Isu terakhir yang tak kalah hangat adalah demo civitas akademika IPB yang marah atas komentar Siti Fadilah berkaitan dengan penemuan bakteri Enterobacter sakazakii oleh FKH-IPB beberapa waktu lalu. Hasilnya adalah telah ditemukan ada 22 merek dagang susu formula bayi dan 15 produk makanan bayi yang beredar di pasaran mengandung bakteri sakazakii yang sangat membahayakan perkembangan otak dan saraf bayi yang mengonsumsinya. Pada berita yang dilansir berbagai media, Bu Menkes mengatakan bahwa tidak ada hujan tidak ada angin tapi kok tiba-tiba IPB mengeluarkan hasil penelitiannya sementara tidak ada kasus bayi yang terekspos. Pernyataan ini dianggap telah melecehkan kredibilitas IPB sebagai institusi akademik. Tidak heran jika Bu Menkes sedang menggelinding di atas bola esnya sendiri.
Hanya itukah sosok yang dimiliki oleh Menteri Kesehatan kita?
Saya tergelitik untuk menuliskan sosok Bu Menkes karena menerima postingan dari milis kampus. Ternyata dibalik kelakuan blundernya, ada sebuah fakta yang membuat kita harusnya bangga pada beliau.
Setelah ditegur oleh Presiden untuk menarik bukunya dari peredaran, Siti Fadilah malah berniat untk mencetaknya lagi dan dalam jumlah yang lebih besar. Buku itu berjudul
"Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung". Pemerintah Amerika dan Badan Kesehatan Dunia atau WHO pun gerah dibuatnya. Apa pasal? Siti Fadilah berhasil membongkar konspirasi AS dan WHO itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1). Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusahaan negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia . Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Siti Fadilah dengan mengatakan, pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi. Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO. "Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport , dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya," begitu komentar Bu Menkes. Siti Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000 eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris dengan total 2000 eksemplar. Meskipun menimbulkan polemik, ia akan tetap mencetak jilid kedua bahkan dalam jumlah yang lebih besar lagi seiring permintaan pasar yang semakin banyak. Bahkan Presiden SBY dikabarkan meminta penghentian peredaran buku tersebut atas desakan pemerintah AS (menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu). Di dalam buku tersebut Siti Fadilah mengungkapkan bagaimana sampel virus H5N1 yang ia kirim untuk diteliti kemudian dikembalikan dalam bentuk kelontongan alias sudah dipilah2. Virus tersebut sudah diubah-ubah oleh pemerintah AS. Sebenarnya apa yang memotivasi Bu Menkes untuk menulis buku yang mengegerkan itu? Berawal dari kejanggalan Siti Fadilah akan ketidaktersediaan obat tamiflu yang ternyata sudah diborong oleh negara-negara maju yang tak terkena endemik flu burung. Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium litbangkes Indonesia melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong? Ia terbayang korban flu burung di Vietnam di mana sampel virus orang yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus. Bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sini ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar negara maju dan kaya yang tak terkena wabah itu. Sampel ini kemudian diolah menjadi vaksin dan dijual secara mendunia tanpa seijin dari negara yang terkena wabah. Di bawah kendali GISN (Global Influenza Surveilance Network), lebih dari 110 negara dperintahkan untuk mengirimkan specimen virus flu burung tsb yang otomatis akan menjadi hak milik GISN. Setelah itu, specimen virus-virus tersebut akan diolah menjadi vaksin dan di sinilah monopoli terjadi karena negara-negara yang terjangkit harus membeli vaksin tsb. Uniknya data itu disimpan di Los Alamos National Laboratory (di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima) New Mexico , AS. Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS. Siti Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu dan bersikeras data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu. Usaha ini berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos , memujinya.
Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia , yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon. Tidak mudah memang, tapi ia bertekad untuk terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan setara. Ia juga terus menentang WHO (dan kawan-kawannya) dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.
Perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan. Perjuangan Bu Menkes inilah yang mengikis semua kekesalan saya akan statement2 yang kerap dilontarkannya tanpa pikir panjang. Kita harus bersyukur bahwa dalam sosok perempuan ahli jantung (berzodiak SCORPIO) ini ada suatu kekuatan besar yang nyata membela nilai kemanusiaan di atas kepentingan industri.
Teruslah berjuang Bu...


p.s. Konon sebuah sampel virus N5H1 ini berharga Rp 90 triliun. Indonesia sudah mengirim sebanyak 58 sampel. Jadi kalau dirupiahin harganya Rp5,220 triliun!!! Wah, bukan hanya utang negara saja yang lunas, mungkin Indonesia akan melebihi Amerika digabung dengan negara kaya lainnya.


0 comments: