Friday, February 5, 2010

Garrulous spectator from VIP Tribune

Polemik antara jurnalis dan pekerja infotainment memang selalu tak berujung. Entah berapa kasus sudah yang terjadi dan melibatkan perang opini di keduanya. Jurnalis seolah tak rela disejajarkan dengan pekerja infotainment sementara sebaliknya menilai bahwa berita seputar selebritipun adalah profesi jurnalistik. Gw tak sanggup membenarkan salah satu pihak apalagi keduanya. Kenapa?
Gosip!! Ya, gossip selalu mendapatkan tempat di kegersangan hati masyarakat yang haus hiburan. Beritanya tidak bikin mikir tapi bisa bikin orang ngerasa update, selain jadi bahan perbincangan bisa juga jadi trend. Dari penggarapan bisa dibilang tidak susah-susah banget kecuali bagian di mana para reporter (maaf meminjam istilah kaum jurnalis yang terhormat) dan kameramennya mengintai target selebriti bermalam2 semisal mengejar Mayank Sari dulu. Gambar2 beritanyapun hanyalah potongan stockshot yang dirangkai dengan cutting dinamis berisi voise over narrator atau saat wawancara selebriti tsb. Setidaknya usaha ini cukup memiliki peminat dan kehadirannya ditunggu selalu kok layaknya sinetron, acara teragung di negeri ini.
Berita adalah sebuah karya factual yang mensyaratkan kemampuan dan wawasan lebih, bahkan akademik mungkin. Kebenaran pesan yang diberitakan bisa dipertanggungjawabkan, harus update (yang ini mungkin saingan berat ama infotainment), melalui proses olahan yang baik sehingga tidak menimbulkan delik2 hukum di kemudian hari. Profesi pekerjanya atau jurnalis cukup terpandang dan memiliki resiko tinggi. Wartawan atau jurnalis selalu mendapatkan tempat sebagai profesi mulia karena apapun yang dia beritakan bisa membawa perubahan dan bukan saja informatif. Di balik itu semua, keseimbangan berita yang seharusnya menjadi prinsip seringkali terabaikan. Jika kita jeli, maka kita akan ngeh bahwa media ini condong ke sini, media itu condong ke sana, Koran ini adalah corong si X dan TV itu adalah alat propaganda si Y.
Fungsi sederhana yang bisa gw tangkap adalah sama2 menyampaikan informasi. Hanya saja yang satu lebih kepada informasi hiburan dan satunya informasi berita. Penggarapan berita mungkin lebih formal tampilannya dan gossip lebih santai. Program Metro TV yang bertajuk Newsmaker malah agak infotainment gw bilang (sorry Uni, tapi gw suka kok dan kayaknya ini satu2nya tayangan hardnews dengan bahasa yang mudah ditangkap. Hehe..) karena memang disajikan tidak seperti berita khas Metro TV lainnya tetapi narasinyapun lebih puitis bertendensi plus background music dari cuplikan lagu-lagu yang liriknya disesuaikan dengan beritanya.
Gw pribadi berteman dengan beberapa rekan jurnalis dan juga pekerja infotainment. Lumayan sedih jika kedua kubu ini selalu saja berpolemik hal yang sama. Peristiwa Luna Maya tempo hari malah menyeret pihak-pihak secara organisasi dan perang opini cukup sengit di antara keduanya. Buat gw, kepentingan menjadi alasan siapapun di dalamnya. Padahal kalo kita bisa sedikit cuek dan membiarkan pihak yang saling berurusan menyelesaikan persoalannya mungkin atmosfir informasi kita lebih adem. Pemandangannya sudah seperti tawuran Manggarai Menteng saja ga ada habis2nya. Padahal gw yakin, tiap pihak itu maksudnya baik.
Sepertinya semua pihak sudah lupa akan local wisdom-nya. Maklum saja, program penataran P4 udah punah jadi pada alpa dengan nilai2 luhur dalam butir2 Pancasila. Hehehe.. Sekarang yang lebih penting adalah hukum positif sehingga etika menjadi sesuatu yang harus diregulasikan. Coba deh apa2 ada aja RUU baru atau peraturan baru muncul ketika suatu masalah mengemuka. Namun di lain kesempatan hukumpun tak ada maknanya ketika para regulator menjadi bagian dari pelanggaran.
Penempatan gw dalam memandang hal ini sangat di tengah sekali. Gw mau bayar mahal di tempat duduk VIP menonton pertandingan kedua tim yang cukup sengit ini. Profesi gw yang berada di ranah yang sama yakni media membuat ada kedekatan untuk mencoba memahami. Jawabannya sebenarnya ada di tiap individu. Jika saja ada seseorang yang kredibel untuk didengarkan dan mampu membawa massanya lebih arif dalam bersikap dan memandang masalah , kondisinya akan lebih baik. Biarlah ia bak pertandingan bola tanpa penonton.
Rekan2 yang ada di lapangan sana, jalankanlah amanah mulia ini dengan kemampuan dan di lahan masing-masing. Masyarakat kita sudah cukup kasihan terbodohkan oleh negara, terbuai oleh konsumerisme, terpasung dalam mimpi dan terjerumuskan dalam kemiskinan. Tiada lagi guna penderitaan ini ditambah jika masing-masing kita merasa benar dan mencoba lomba lantang suara dengan alasan logika subjektif.
Buat para penguasa media, biarkanlah para jurnalis dengan idealisme mulia menjalankan kebenarannya sehingga rakyat ini tak perlu berpikir untuk menyaring fakta untuk kepentingan siapa sebuah pemberitaan itu. Bagi rekan-rekan pekerja infotainment, lebih menjaga sikap dan profesionalisme. Ingat kawan, yang diliput itu manusia dan konsumen beritanya juga manusia. Jika batasan etika secara hukum belum ada, hendaknya kawan2 bisa berempati dalam menjalankan tugasnya. Rakyat kita butuh hiburan yang factual juga kok tanpa mengurangi sisi menariknya.
May all beings happy…

p.s. salute untuk pekerja film dan documenter..


Wednesday, February 3, 2010

Waiting to exhale..

I need to review my recent days. For sure, it was full of emotion, self combat, suspicion,intrigues n tears. That is why i hate hunch sometimes. It tells me something illogically n drives to find the truth by proving it. I'm so insensitive but when this hunch comes to town, it turns me totally. Usually my hunch relates on something thats about to happen to me n people i care so much. The rest, the hunch take a rest too. Last month, the hunch visited me n this time got me so anxious n encouraged me to do things unusually. It bang so hard in my mind n keep me away of things i suppose to do instead. I did n i found pieces of truth which puzzled off before. Though the truth was hurting but i need to stand up over pride, promises n feeling.


Thursday, September 10, 2009

the hurt penguin..

Perjalanan pertamaku ke hamparan es hampir membunuhku namun aku berusaha untuk bisa kembali menikmati atmosfir putih dan dingin menusuk itu.
Indah sekali hari di ketika aku bertemu pinguin cantik yang lucu. Seketika hatiku menyatu dalam kehidupannya bersamaan dgn ia mengisi hari-hariku. Bentuknya yang lucu dan menggemaskan selalu menceriakan aku. Aku sayang sekali padanya dan kami merasa saling memiliki satu sama lain.
Kami berjalan di atas bongkahan es yang terhampar luas. Lapisan es tipis menjadi resiko kami untuk terjatuh. Hati-hati kami melangkah di atasnya sampai di satu saat genggamanku terlepas darinya dan tanpa sempat kuraih lagi dia menginjak es tipis dibawahnya. Lama ia tak muncul di permukaan dan aku mencarinya ke mana2. Tubuhku yang tidak tahan dingin tak berupaya lebih keras mencarinya. Aku hanya bisa terdiam terpaku dan menangis, merasakan hatiku pedih kehilangan dia.
Waktu berjalan dan aku berusaha keluar dari hamparan es untuk kembali ke daratan di mana aku seharusnya berada. Tiba2 aku terpeleset dan kepalaku terbentur. Sekilat cahaya putih datang diikuti bayangan hitam menyeluruh dalam pandanganku. Lalu aku mendengar suara yg aku kenal dan kakiku seakan ada yg menarik2. Aku terbangun dan pandangan kaburku semakin jelas melihat pinguinku yang hilang. Dia lusuh namun tersenyum manis padaku. Aku bangkit dan menggamit tubuhnya. Ia menarik2ku kembali ke hamparan es. Oh, aku begitu rindu padanya, SANGAT. Aku ingin mengajaknya ke daratan tapi itu tak mungkin. Aku terlalu dingin untuk kembali. Tuhan dia lucu sekali dan aku mengikutinya dengan dingin yg semakin menusuk. Senang dapat bersamanya, aku kembali terceriakan olehnya. Semakin lucu, bahkan dari saat sebelum ia terjatuh. Namun, daratan dengan kerasnya kian memanggil. Aku berusaha mencari hangat dengan dirinya. Pegangannya semakin kuat di tanganku membuat aku semakin terpojok dalam pergumulan antara kebutuhanku tuk kembali dan melihat kebahagiaan di matanya. Aku sayang sekali padanya...
Dia sangat melindungiku dan menjagaku dengan baik. Dia bahkan memilih untuk tetap menggemgamku daripada kembali ke kelompoknya. Kami hanyalah kami. Indah sekali melihat bahagianya.
Kali ini dingin itu tak tertahan lagi. Aku harus pergi karena aku sangat menyayangi dia. Dia harus kembali pada rumahnya dan aku harus kembali ke daratan di mana aku berasal. Pinguin cantik itu perlahan2 aku lepaskan meskipun aku tau berat baginya, sangat berat. Aku tau denganku dia akan mati meskipun aku tidak mau kehilangan dia. Tapi kami tidak ditakdirkan bersama. Aku membawa cinta dan kenangannya sementara aku menyisakan sakit dan air mata.
Aku tidak mungkin bertahan di hamparannya, ia tidak mungkin hidup di daratanku. Aku memilih yang terbaik meski caranya menyakitkan. Aku membisikkan sesuatu padanya agar ia membenciku dan melepaskanku pergi. Marahnya luar biasa sekali. Perlahan kulepaskan peganganku diiringi sumpah serapah dan mata tajamnya yang biasa teduh.
Aku membalikkan badan dan masih kudengar kemarahannya di belakang sana. Semakin jauh dan suara itu mulai hilang. Tiap langkah yang kujalankan teriring tetesan air mata jatuh ke pipiku. Sakit sekali karena tetesan itu mengalir dan membeku di wajahku. Akupun tahu betapa hancurnya hati sang pinguin. Aku ingin selalu ada untuknya tapi bukan di ruang dan waktu yg ia harapkan.
Aku tau dia akan lebih bahagia jika kembali dalam kelompoknya. Menemukan cinta sejatinya dan hidup bahagia selamanya.
Aku akan selalu merindukan pingun cantikku. Memori itu tak kan pernah hilang dan aku akan mengunjunginya suatu saat meskipun aku harus berusaha keras mencarinya.
Bahagialah di sana...

p.s. Aku sudah tiba di daratan dan akan memulai hidupku dengan baik..


you'll be fine

Wednesday, September 2, 2009

Menjaga G

Perjalananku berlabuh di pelukmu
Ruang yang selama ini aku butuhkan
Nyaman sekali berada di sini
Lekat2 kutatap mata indahmu
Kutemukan makna dalam yang menggetarkan hati
Rasa yang menggelembung di dada
Seketika meledak pelan saat sentuhanmu tiba
Tawa2 kita lepas tanpa beban
Air mata kita mengalir dalam suka
Ke mana lagi aku akan pergi?
Ketika hati telah terikat dan waktu semakin bersahabat
Nyaman sekali berada di sini..
Dalam peluk dan sentuhanmu
Dalam tatapan dan hatimu
Dalam pedihmu dan harapanmu
Dalam ingin dan mimpimu
Dalam kasih dan cintamu

Lama.. harapku dan harapmu

Monday, March 9, 2009

Conscience ; between heart and mind?

Di sebuah ruang tamu di kawasan Matraman, gw pernah terdampar dengan 2
sahabat gw dari Pesmo sambil menikmati semilir angin malam dan asap
berbau menthol produksi Sampoerna yang terkenal itu. Oloh, tolong…
Panjang amat nih basa basi…

Intinya, gw ama Yoga en Ika lagi ngebahas soal Pesmo, gosip2 di kantor gw dulu
ama tentang kehidupan. Kalo soal Pesmo itu sifatnya internal banget
jadi ga bakal dibahas di sini. Kalo soal IBS kan ga enaklah yah mana di
frenlist gw ada beberapa anak IBS. Hehe… Sori guys, ga gosipin kalian
kok tapi tentang si X, si Y dan si Z.

Tentang kehidupan sih yang pengen gw tulis sekarang ini.

Gw berpendapat bahwa aktifitas tersulit adalah membuat keputusan karena
elo dituntut jeli dan tepat untuk memilih. Apakah elo milih dengan hati
atau pikiran. Well, last night gw chat ama sahabat gw di mana ia juga
sedang mengalami perang bathin (istilah org2) dalam membuat suatu
keputusan sebagai solusi dari permasalahannya. Sama sih, apakah gw
harus listen to my heart or should I use my head?

Gimana juga yah? To make decision depends on some things sih. Gimana baik
buruknya nantinya kalo ngambil keputusan A or B. Yang lebih sulit
adalah ketika keputusan itu melibatkan orang lain (meskipun keputusan
buat diri sendiri juga bisa menjadi sangat sulit, lihat blog gw
‘confusion from a far’). Saat itu kita ngebahas apa sih yang sering
membuat manusia bingung en ternyata kita sama persepsi. Bingung itu
disebabkan karena logika dan perasaan tidak sejalan. Ada kalanya kita
merasa sedang berpikir tetapi ternyata sebenarnya kita sedang merasa.
Logika sering menjadi semu karena mungkin kita lebih ngedengerin hati.
Tak bisa disangkal bahwa hati memang berpengaruh besar. Menurut Yoga,
bedanya adalah bahwa perasaan itu refleksi dari subyektifitas kita
sedangkan pikiran adalah hal2 yang rasional, logis, dan obyektif. Bener
juga sih bahwa hal2 subyektif itu comes from our heart karena hati
memang memihak sedangkan pikiran akan lebih membuka diri kita pada
ruang2 toleransi, keseimbangan luar dalam dan juga kepercayaan. Kenapa
begitu? Ketika kita berpikir pasti yang terbersit adalah flowchart2
yang membuat kita melihat segala sesuatunya bukan hanya dari 1 angle
saja sementara kalo kita memakai perasaan biasanya kita diarahkan
langsung pada pilihan2. Yang sering jadi permasalahan adalah ketika
kita belum bisa mengambil keputusan karena hati dan pikiran sama
kuatnya.

Sebenarnya ada 1 hal yang mungkin akan selalu mengarahkan kita kepada hal yang
benar jika kita buntu yaitu conscience or hati kecil. Conscience naver
lies cause it always tells us about right and wrong. Tidak ada kata2
‘kalau begini’ atau ‘mungkin’ atau ‘sebaiknya’. Kesulitan banyak orang
adalah kemampuan mendengar kata hati (termasuk gw). Kalo kayak kata
Yoga sih, iman cukup membantu orang untuk bisa mendengar hati kecilnya.
Hanya saja masa sekarang kan banyak orang yang kurang dekat dengan hal2
relijius (including me…). Butuh ketenangan hati dan pikiran supaya
telinga bathin kita bisa peka akan suara2 kecil dari dalam diri kita.
Sempat terlontar pertanyaan konyol dari gw. Gimana kalo kita udah
merasa dengerin hati kecil tapi ternyata yang kita dengerin itu suara
setan? Hehe… Nggak, ini cuma sekedar wacana garing gw saat itu. Never
mind this yak. Di sinilah mungkin salah satu seni hidup. Banyak misteri
yang harus dikuak supaya kita bisa ngejalanin hidup ini dengan
sebaik2nya. Buat gw, hati kecil adalah satu misteri. Dia bisa datang
pada saat yang kita tidak duga bahkan bisa saja kita baru menyadari
kehadirannya di saat dia sudah ‘bicara’ tapi tanpa sadar itu dia, kita
sudah mendengarnya. Apa mungkin ga bahwa pernyataan ‘…perasaan gw
tiba2 ga enak nih…’ itu adalah suara hati kecil kita atau apa?

We talked it over until dawn tapi yang kita dapat hanyalah pergantian hari
di mana kita2 mungkin akan mulai belajar untuk mendengar hati kecil.
Karena bukan tidak mungkin suatu saat kita2 akan kembali mengalami
perang bathin bahkan yang lebih dahsyat dari yang sudah2… Phew…

p.s.
Ga, kapan nih meeting lagi? Garing yah ga ada kabr dari Bapak itu?
Never loose ur faith in Pesmo… We’ll rock this country!!!

Woy Mberrr…ke depok kek, telp gw kek, maen ke rumah gw kek… Kangen nij, Ka… Salam buat Tante Nini yah..hahahahahaha….



(postingan tgl 1 Okt’06, somehow ga ke-post)

Sunday, January 25, 2009

..is it???

I feel the blue skies up there staring at my heart and it's beating quite faster than usual.
I haven't confirmed if it's love or just a hard crush.
All I know it's about you.. Yes, you..
This stage of my journey brought some new experience especially for my point of view in seeing life and myself. In just a blink of the eyes you came and all of sudden shaking my world.
Maybe I'm too exaggerating on this. I don't even feel the process without saying I didn't enjoy the moments with you. It's just instantly happens.
How come? The chemistry between us flying my imagination to a higher point. The point of achievement, happiness and life itself.
I'm just too afraid to say it loud, afraid of losing the things I have now.
It keeps banging harder and harder inside without knowing when it's gonna blow.
I can't let it happened, I don't want to raise my my bid over something doubtful.
I feel cornered inside my empty space listening to crowded sounds out there.
I know if I have to give a shot, I would be lost by the crowd. They're just too many while you're there laughing with them and not realize my incongruous almost-unreal presence.
Just the blue skies still staring at my heart. Like telling to me to stand up and give my own direction. Get into the crowd or just follow the beautiful skies alone..
I know it's not about winning or losing, it's about me getting or passing the chance..
Ready?

p.s. Just a short bliss of me at the moment..

Friday, January 23, 2009

cukup tahu saja

Gila..
Knp juga gw selalu toleran dgn sikap org2 yah?
Tulusnya gw apa begonya gw?
Bahkan meminta tolong pd org yg gw tolong bgt dulunya, susahnya minta ampun hanya sekedar untuk menjaga nama. Fuck ur name, man! You're just dirt to some people. Thank God i had a heart so i still forgive ur deadly sins.. Macam Tuhan deh gw.
Knp ya gw selalu memafkan dan memafkan, maklum dan maklum lagi.. Apa benar kenyamanan dan damai hati gw tercipta di saat gw menghapus salah org ke gw atau memakluminya tanpa memikirkan kacau balaunya sikon hati gw?
Cape deh.. ya capek.. Di bumi bagian mana sih msh tertinggal sudut ketulusan dan juga solidaritas? Muter2 Jawa ga sih nyarinya..
Gw sadar ketika gw mulai perubahan dalam diri gw, akan ada konsekuensi, akan ada efek entah buat gw ataupun org lain. Seringkali gw malah ga nyaman dgn perubahan itu jadinya balik2 lagi deh ke sikon being used.. over and over again..
Cape ga sih Toy.. Cape bgt!!
Sebenarnya knp sih gw tetep peduli? Cause I care about you.. I trust you.. I might love you thought its hard for me to admit..
Haruskah gw expect pada org2 yg gw care? Kyknya ga usah dijawab karena itu akan terjadi sendiri pada perasaan gw. Jd muncul pertanyaan apakah gw stop peduli pd org2, ataukah gw harus selektif, atau menjauh atau apathetic sekalian?
Yak.. I'll try again to change something about it.. Siap..siap...???


p.s. to someone..
Sampai kpn sih lo ga berubah?
I still owe my hands a hard punch on your face!
Keep that in mind, will ya?