Gosip!! Ya, gossip selalu mendapatkan tempat di kegersangan hati masyarakat yang haus hiburan. Beritanya tidak bikin mikir tapi bisa bikin orang ngerasa update, selain jadi bahan perbincangan bisa juga jadi trend. Dari penggarapan bisa dibilang tidak susah-susah banget kecuali bagian di mana para reporter (maaf meminjam istilah kaum jurnalis yang terhormat) dan kameramennya mengintai target selebriti bermalam2 semisal mengejar Mayank Sari dulu. Gambar2 beritanyapun hanyalah potongan stockshot yang dirangkai dengan cutting dinamis berisi voise over narrator atau saat wawancara selebriti tsb. Setidaknya usaha ini cukup memiliki peminat dan kehadirannya ditunggu selalu kok layaknya sinetron, acara teragung di negeri ini.
Berita adalah sebuah karya factual yang mensyaratkan kemampuan dan wawasan lebih, bahkan akademik mungkin. Kebenaran pesan yang diberitakan bisa dipertanggungjawabkan, harus update (yang ini mungkin saingan berat ama infotainment), melalui proses olahan yang baik sehingga tidak menimbulkan delik2 hukum di kemudian hari. Profesi pekerjanya atau jurnalis cukup terpandang dan memiliki resiko tinggi. Wartawan atau jurnalis selalu mendapatkan tempat sebagai profesi mulia karena apapun yang dia beritakan bisa membawa perubahan dan bukan saja informatif. Di balik itu semua, keseimbangan berita yang seharusnya menjadi prinsip seringkali terabaikan. Jika kita jeli, maka kita akan ngeh bahwa media ini condong ke sini, media itu condong ke sana, Koran ini adalah corong si X dan TV itu adalah alat propaganda si Y.
Fungsi sederhana yang bisa gw tangkap adalah sama2 menyampaikan informasi. Hanya saja yang satu lebih kepada informasi hiburan dan satunya informasi berita. Penggarapan berita mungkin lebih formal tampilannya dan gossip lebih santai. Program Metro TV yang bertajuk Newsmaker malah agak infotainment gw bilang (sorry Uni, tapi gw suka kok dan kayaknya ini satu2nya tayangan hardnews dengan bahasa yang mudah ditangkap. Hehe..) karena memang disajikan tidak seperti berita khas Metro TV lainnya tetapi narasinyapun lebih puitis bertendensi plus background music dari cuplikan lagu-lagu yang liriknya disesuaikan dengan beritanya.
Gw pribadi berteman dengan beberapa rekan jurnalis dan juga pekerja infotainment. Lumayan sedih jika kedua kubu ini selalu saja berpolemik hal yang sama. Peristiwa Luna Maya tempo hari malah menyeret pihak-pihak secara organisasi dan perang opini cukup sengit di antara keduanya. Buat gw, kepentingan menjadi alasan siapapun di dalamnya. Padahal kalo kita bisa sedikit cuek dan membiarkan pihak yang saling berurusan menyelesaikan persoalannya mungkin atmosfir informasi kita lebih adem. Pemandangannya sudah seperti tawuran Manggarai Menteng saja ga ada habis2nya. Padahal gw yakin, tiap pihak itu maksudnya baik.
Sepertinya semua pihak sudah lupa akan local wisdom-nya. Maklum saja, program penataran P4 udah punah jadi pada alpa dengan nilai2 luhur dalam butir2 Pancasila. Hehehe.. Sekarang yang lebih penting adalah hukum positif sehingga etika menjadi sesuatu yang harus diregulasikan. Coba deh apa2 ada aja RUU baru atau peraturan baru muncul ketika suatu masalah mengemuka. Namun di lain kesempatan hukumpun tak ada maknanya ketika para regulator menjadi bagian dari pelanggaran.
Penempatan gw dalam memandang hal ini sangat di tengah sekali. Gw mau bayar mahal di tempat duduk VIP menonton pertandingan kedua tim yang cukup sengit ini. Profesi gw yang berada di ranah yang sama yakni media membuat ada kedekatan untuk mencoba memahami. Jawabannya sebenarnya ada di tiap individu. Jika saja ada seseorang yang kredibel untuk didengarkan dan mampu membawa massanya lebih arif dalam bersikap dan memandang masalah , kondisinya akan lebih baik. Biarlah ia bak pertandingan bola tanpa penonton.
Rekan2 yang ada di lapangan sana, jalankanlah amanah mulia ini dengan kemampuan dan di lahan masing-masing. Masyarakat kita sudah cukup kasihan terbodohkan oleh negara, terbuai oleh konsumerisme, terpasung dalam mimpi dan terjerumuskan dalam kemiskinan. Tiada lagi guna penderitaan ini ditambah jika masing-masing kita merasa benar dan mencoba lomba lantang suara dengan alasan logika subjektif.
Buat para penguasa media, biarkanlah para jurnalis dengan idealisme mulia menjalankan kebenarannya sehingga rakyat ini tak perlu berpikir untuk menyaring fakta untuk kepentingan siapa sebuah pemberitaan itu. Bagi rekan-rekan pekerja infotainment, lebih menjaga sikap dan profesionalisme. Ingat kawan, yang diliput itu manusia dan konsumen beritanya juga manusia. Jika batasan etika secara hukum belum ada, hendaknya kawan2 bisa berempati dalam menjalankan tugasnya. Rakyat kita butuh hiburan yang factual juga kok tanpa mengurangi sisi menariknya.
May all beings happy…
p.s. salute untuk pekerja film dan documenter..





