Indah sekali hari di ketika aku bertemu pinguin cantik yang lucu. Seketika hatiku menyatu dalam kehidupannya bersamaan dgn ia mengisi hari-hariku. Bentuknya yang lucu dan menggemaskan selalu menceriakan aku. Aku sayang sekali padanya dan kami merasa saling memiliki satu sama lain.
Kami berjalan di atas bongkahan es yang terhampar luas. Lapisan es tipis menjadi resiko kami untuk terjatuh. Hati-hati kami melangkah di atasnya sampai di satu saat genggamanku terlepas darinya dan tanpa sempat kuraih lagi dia menginjak es tipis dibawahnya. Lama ia tak muncul di permukaan dan aku mencarinya ke mana2. Tubuhku yang tidak tahan dingin tak berupaya lebih keras mencarinya. Aku hanya bisa terdiam terpaku dan menangis, merasakan hatiku pedih kehilangan dia.
Waktu berjalan dan aku berusaha keluar dari hamparan es untuk kembali ke daratan di mana aku seharusnya berada. Tiba2 aku terpeleset dan kepalaku terbentur. Sekilat cahaya putih datang diikuti bayangan hitam menyeluruh dalam pandanganku. Lalu aku mendengar suara yg aku kenal dan kakiku seakan ada yg menarik2. Aku terbangun dan pandangan kaburku semakin jelas melihat pinguinku yang hilang. Dia lusuh namun tersenyum manis padaku. Aku bangkit dan menggamit tubuhnya. Ia menarik2ku kembali ke hamparan es. Oh, aku begitu rindu padanya, SANGAT. Aku ingin mengajaknya ke daratan tapi itu tak mungkin. Aku terlalu dingin untuk kembali. Tuhan dia lucu sekali dan aku mengikutinya dengan dingin yg semakin menusuk. Senang dapat bersamanya, aku kembali terceriakan olehnya. Semakin lucu, bahkan dari saat sebelum ia terjatuh. Namun, daratan dengan kerasnya kian memanggil. Aku berusaha mencari hangat dengan dirinya. Pegangannya semakin kuat di tanganku membuat aku semakin terpojok dalam pergumulan antara kebutuhanku tuk kembali dan melihat kebahagiaan di matanya. Aku sayang sekali padanya...
Dia sangat melindungiku dan menjagaku dengan baik. Dia bahkan memilih untuk tetap menggemgamku daripada kembali ke kelompoknya. Kami hanyalah kami. Indah sekali melihat bahagianya.
Kali ini dingin itu tak tertahan lagi. Aku harus pergi karena aku sangat menyayangi dia. Dia harus kembali pada rumahnya dan aku harus kembali ke daratan di mana aku berasal. Pinguin cantik itu perlahan2 aku lepaskan meskipun aku tau berat baginya, sangat berat. Aku tau denganku dia akan mati meskipun aku tidak mau kehilangan dia. Tapi kami tidak ditakdirkan bersama. Aku membawa cinta dan kenangannya sementara aku menyisakan sakit dan air mata.
Aku tidak mungkin bertahan di hamparannya, ia tidak mungkin hidup di daratanku. Aku memilih yang terbaik meski caranya menyakitkan. Aku membisikkan sesuatu padanya agar ia membenciku dan melepaskanku pergi. Marahnya luar biasa sekali. Perlahan kulepaskan peganganku diiringi sumpah serapah dan mata tajamnya yang biasa teduh.
Aku membalikkan badan dan masih kudengar kemarahannya di belakang sana. Semakin jauh dan suara itu mulai hilang. Tiap langkah yang kujalankan teriring tetesan air mata jatuh ke pipiku. Sakit sekali karena tetesan itu mengalir dan membeku di wajahku. Akupun tahu betapa hancurnya hati sang pinguin. Aku ingin selalu ada untuknya tapi bukan di ruang dan waktu yg ia harapkan.
Aku tau dia akan lebih bahagia jika kembali dalam kelompoknya. Menemukan cinta sejatinya dan hidup bahagia selamanya.
Aku akan selalu merindukan pingun cantikku. Memori itu tak kan pernah hilang dan aku akan mengunjunginya suatu saat meskipun aku harus berusaha keras mencarinya.
Bahagialah di sana...
p.s. Aku sudah tiba di daratan dan akan memulai hidupku dengan baik..

you'll be fine







